Selamat Datang Di Mulsi Media

Mulsi Media merupakan media pembelajaran dari segala bidang yang bernilai positif dan bermanfaat

Find Out More Purchase Theme

Our Services

Sejarah Peminatan

Kumpulan penjelasan materi Sejarah Peminatan.

Read More

Sosiologi

Kumpulan penjelasan materi Sosiologi.

Read More

Tutorial

Kumpulan tutorial aplikasi.

Read More

Antropokinetika

Kumpulan materi dan tutorial Sportourism serta medical sport.

Read More

Recent Work

Senin, 18 Januari 2021

CONTOH BIOGRAFI

CONTOH BIOGRAFI


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Saat saya kuliah tugas kuliah Metode Penelitian Sosial II membuat biografi orang-orang yang ada disekitar saya, dengan kriteria orang tersebut memiliki pengalaman yang baik dan luar biasa dalam kehidupan sehari-harinya.

Biografi  umumnya berisi tentang kisah seseorang. Sebuah biografi tidak hanya berisi catatan tanggal lahir dan wafat seseorang, pekerjaan dan perjalanan karir, tetapi juga bercerita tentang perasaan dari pemilik biografi dan pengalamannya dalam suatu peristiwa atau kejadian tertentu dalam hidupnya. Biografi dapat digunakan sebagai sumber sejarah karena dapat menggambarkan tentang keadaan masyarakat saat itu dengan bermacam dimensi sosialnya. Penulisan biografi Indonesia sangat berbeda dengan penulisan biografi di negara-negara barat. Buku-buku biografi yang terbit di Indonesia umumnya berorientasi pada tindakan (action-oriented). Contohnya, konsisten mengikuti urutan kronologis seperti diawali dengan cerita masa kecil sang tokoh, kemudian tindakan-tindakan yang dilakukan sebagai individu dengan berpikir dan bertindak dalam mencapai sebuah tujuan normatif yang digariskan oleh cita-cita bangsanya. Di Indonesia contoh biografi yang paling populer adalah biografi tentang pahlawan nasional, kemudian biografi tentang tokoh agama dari abad XX, dan yang terakhir adalah biografi para politisi sipil yang berada di luar jalur militer. Biografi pahlawan nasional mengemukakan peranan ideologi sebagai dasar perjuangan mereka dalam mencapai tujuan mulia.

Berikut tahapan dalam pembuatan biografi secara sederhana:

ü      Mintalah seseorang di dekat kalian yang kamu anggap baik dalam pengalaman dan kehidupan sehari-harinya untuk dijadikan objek penelitian kalian

ü      buatlah daftar pertanyaan yang eksploratif agar mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya 

ü     gunakan teknik wawancara untuk mendapatkan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang sudah kalian susun

ü      kemudian tulislah hasil wawancara kalian menjadi sebuah biografi sejarah minimal sepanjang 5 halaman

ü      Selamat mencoba!!!

Berikut ini merupakan contoh biografi yang saya buat dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial II, semoga dapat membantu, terimakasih.

Selasa, 12 Januari 2021

Hakikat Kearifan Lokal

Hakikat Kearifan Lokal

 

Hakikat Kearifan Lokal

Kearifan lokal masyarakat merupakan hasil dari proses adaptasi turun-temurun dalam periode waktu yang sangat lama terhadap suatu lingkungan alam tempat mereka tinggal. Kearifan lokal menjadi tata nilai kehidupan yang terwarisi antar generasi. Pada umumnya kearifan lokal berbentuk lisan atau tulisan dalam suatu bentuk sistem sosial suatu masyarakat namun pada era modern ini tampaknya nilai-nilai Luhur dalam kearifan lokal dikawatirkan mulai meredup memudar dan kehilangan maknanya bagi sebagian orang. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh budaya luar yang masuk ke Indonesia melalui arus globalisasi

1.     Memahami Makna Kearifan Lokal

Menurut asal kata, kearifan lokal terbentuk dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Banyak pandangan mengenai pengertian kearifan lokal. Akan tetapi, pada dasarnya kearifan lokal mengacu kepada nilai-nilai dalam masyarakat dan keseimbangan alam. Berikut beberapa pandangan mengenai kearifan lokal.

a) S. Waris menyatakan bahwa secara konseptual, kearifan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara, dan perilaku yang melembaga secara tradisional.

b)   Phongphit dan Nantasuwan menyatakan kearifan lokal sebagai pengetahuan yang berdasarkan pengalaman masyarakat turun temurun antargenerasi.

c)    I Ketut Gobyah mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau Ajeng dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai Suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas.

d)  H. Quaritch Wales menjelaskan bahwa local genius atau kearifan lokal berarti kemampuan budaya setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan

e)  Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas atau kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri

f)    Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 memberikan pengertian tentang kearifan lokal, yaitu nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat antara lain untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara Lestari

 

Berdasarkan pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan komunitas tersebut.

Dalam istilah asing, kearifan lokal juga sering dikonsepsikan sebagai kebijakan masyarakat setempat. Hal ini terlihat dari muatan katanya, yaitu Local Wisdom (kearifan lokal), local knowledge (pengetahuan lokal), atau local genius (kecerdasan setempat). Istilah kearifan lokal atau local genius ini diperkenalkan pertama kali oleh H. Quaritch Wales  pada tahun 1951

Kearifan lokal berkaitan erat dengan kondisi geografis atau lingkungan alam. Nilai-nilai dalam kearifan lokal menjadi modal utama dalam membangun masyarakat tanpa merusak tatanan sosial dengan lingkungan alam. Jadi, dapat dikatakan bahwa kearifan lokal terbentuk sebagai budaya unggul dari masyarakat setempat berkaitan dengan kondisi geografis. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal, nilai yang terkandung didalamnya diyakini sangat universal.

 

2.     Ciri-ciri dan Fungsi Kearifan Lokal

a)     Ciri-ciri kearifan lokal

kearifan lokal tercermin dalam setiap aktivitas masyarakat seperti religi, budaya, dan adat istiadat. Masyarakat beradaptasi terhadap lingkungan tempat tinggalnya dengan mengembangkan suatu kearifan dalam wujud pengetahuan atau ide, nilai budaya, serta peralatan, yang dipadukan dengan nilai dan norma adat dalam aktivitas mengelola lingkungan untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Moendardito mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Ciri-ciri kearifan lokal tersebut adalah sebagai berikut (Saragih, 2013).

·         Mampu bertahan terhadap budaya luar

·         Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar

·         Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli

·         Mempunyai kemampuan mengendalikan

·         Mampu memberi arah pada perkembangan budaya.

 

Adapun karakteristik kearifan lokal menurut Phongphit dan Nantasuwan adalah sebagai berikut (Affandy dan Wulandari, 2012).

·   Memasukkan nilai-nilai yang mengajari masyarakat mengenai etika dan nilai moral

·        Mengajarkan masyarakat untuk mencintai alam, tidak merusak alam, dan

·        Berasal dari anggota-anggota tua masyarakat

 

Phongphit and Nantasuwan juga menjelaskan bahwa kearifan lokal hadir dalam berbagai bentuk, melalui pemikiran, cara kerja, cara hidup dan nilai sosial. Permasalahannya adalah kearifan lokal biasanya tidak diterbitkan dan dipromosikan secara resmi. Akibatnya, sulit bagi masyarakat untuk belajar dan menggunakan pengetahuan jenis ini.

 

b)     Fungsi Kearifan Lokal

Nyoman Sirtha menyatakan bahwa kearifan lokal memiliki berbagai bentuk dalam masyarakat. Karena bentuknya beragam, fungsi kearifan lokal pun menjadi beragam. Menurut Sirtha, Kearifan lokal memiliki berbagai fungsi dan makna sebagai berikut (Mariane, 2014)

·       Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam

·  Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate

·      Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan

·       Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan

·      Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat serta upacara daur pertanian

·      Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara ngaben dan penyucian roh leluhur, dan

·   Bermakna politik, misalnya dalam upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client.

 

3.     Bentuk Kearifan Lokal di Indonesia

Nyoman Sirtha menjelaskan bahwa bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada dalam masyarakat dapat berupa nilai, norma, kepercayaan dan aturan-aturan khusus. Kearifan lokal berasal dari warisan nenek moyang yang menyatu dalam kehidupan manusia yang diturunkan dari generasi ke generasi. Adapun menurut Teezi, Marchettini dan Rarosini (Mariane, 2014) hasil akhir dari sedimentasi kearifan lokal adalah berbentuk tradisi atau agama. Dia mengatakan bahwa kemunculan kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses trial l and error dari berbagai macam pengetahuan empiris/nonempiris ataupun estetik/ intuitif. Kearifan lokal ini menggambarkan fenomena yang akan menjadi ciri khas komunitas kelompoknya, misalnya alon-alon asal kelakon dalam masyarakat Jawa Tengah.

Terdapat pendapat lain yang mengklasifikasikan bentuk kearifan lokal ke dalam dua aspek. Bentuk kearifan lokal yaitu berwujud nyata (tangible) dan yang tidak berwujud (intangible) (Azan, 2013). Berikut uraiannya.

a)    Berwujud Nyata (Tangible)

Bentuk kearifan lokal yang berwujud nyata meliputi beberapa aspek berikut.

·       Tekstual

Beberapa jenis kearifan lokal contohnya sistem nilai, tata cara, dan aturan yang dituangkan dalam bentuk catatan tertulis. Contoh yang dapat kita temui yaitu dalam kitab tradisional Jawa (primbon), kalender dan naskah-naskah pada lembaran daun lontar

·       Bangunan/Arsitektural

Konsep kearifan lokal juga terdapat dalam seni arsitektur rumah adat suku-suku di Indonesia. Banyak bangunan-bangunan tradisional di Indonesia yang merupakan cerminan bentuk kearifan lokal. Hal ini dapat terlihat dari bentuk, ornamen, tata letak, interior dan sebagainya. Sebagai contoh, pendopo Jawa, rumah gadang Minangkabau, dan rumah Tongkonan Toraja.

·       Benda Cagar Budaya/Tradisional (Karya Seni)

Benda-benda tradisional hasil karya masyarakat juga banyak menyimpan kearifan lokal, seperti patung, senjata, alat musik dan tekstil.

 

b)    Tidak Berwujud (Intangible)

Selain bentuk kearifan lokal yang berwujud, terdapat bentuk kearifan lokal yang tidak berwujud. Contohnya petuah yang disampaikan secara verbal dan seni suara berupa nyanyian, pantun, cerita yang sarat nilai-nilai ajaran tradisional. Melalui petuah atau bentuk kearifan lokal yang tidak berwujud lainnya, nilai sosial disampaikan secara oral/verbal dari generasi ke generasi.

 

4.     Potensi Kearifan Lokal di Indonesia

Pada prinsipnya kearifan lokal mempunyai peran yang sangat strategis dalam membangun peradaban suatu masyarakat. Nilai-nilai dalam kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat akan menjadi identitas bagi masyarakat itu sebagai komunitas masyarakat yang bermartabat.

Pada masyarakat Indonesia, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyanyian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu.

Beberapa kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat Indonesia antara lain sebagai berikut.

·        Kearifan lokal dalam karya-karya masyarakat

Kearifan lokal dalam karya masyarakat misalnya pada seni tekstil di Indonesia. Masyarakat Jawa memiliki batik yang menjadi ciri khas dan kebanggaan Indonesia. Tidak hanya motifnya yang indah, namun dibalik motif tersebut tersimpan makna yang mendalam. Motif-motif tersebut berisi nasihat, harapan, dan doa kepada Tuhan. Sebagai contoh, motif batik parang memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah. Hal ini terlihat dalam dari motifnya yang berisi jalinan yang tidak terputus.

 

·        Kearifan Lokal Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Kearifan lokal mengajarkan kita untuk tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Tentunya hal ini bukan tanpa maksud, melainkan agar keberlanjutan hidup dan diri kita sendiri terus terjaga. Seperti halnya pada masyarakat Dayak di Kalimantan. Konsep konservasi lingkungan telah dikenal lama oleh masyarakat Dayak yang disebut dengan istilah Tana’ Ulen. Pada wilayah Tana’ Ulen, penduduk di larang menebang pohon, membakar hutan, membuat ladang, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang menimbulkan kerusakan hutan. Pengambilan hasil hutan Tana’ Ulen hanya dimanfaatkan pada waktu-waktu tertentu dan diperuntukkan bagi kepentingan umum. Pengambilan hasil hutan untuk kepentingan pribadi sangat dibatasi.

 

·        Kearifan Lokal Dalam Mitos Masyarakat

Mitos terdapat pohon-pohon keramat banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Sebagai contoh penduduk Jawa dan Bali yang menganggap pohon besar memiliki roh penunggu sehingga tidak boleh ditebang. Disadari atau tidak, mitos ini sangat membantu keseimbangan alam. Pohon besar secara ilmiah memang menyimpan cadangan air tanah dan penyedia oksigen. Contoh lain, pada masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh, Jawa Barat terdapat mitos tabu sehingga pemanfaatan hutan dilakukan secara hati-hati, tidak diperbolehkan melakukan eksploitasi kecuali atas izin sesepuh adat.

Mitos terhadap hewan yang dianggap keramat juga turut menyumbang pelestarian hewan dari kepunahan. Hewan yang dianggap keramat contohnya seperti ular, kucing, burung gagak, burung hantu, buaya, burung enggang dan hewan lainnya. Dengan adanya mitos tersebut, kelangsungan hidup hewan tersebut lebih terjamin. Hal ini mengingat satwa merupakan bagian jaringan ekosistem yang memainkan perannya dalam keseimbangan ekosistem.

 

·        Kearifan Lokal Dalam Bidang Pertanian

Kegiatan pertanian dan bercocok tanam telah dikenal oleh nenek moyang kita. Nenek moyang kita telah mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Contohnya sistem pertanian Nyabuk Gunung di Jawa Tengah dan Mitracai di Jawa Barat. Sistem pertanian tersebut dilakukan di dataran tinggi tanpa mengubah kontur tanah. Jadi ketika lahan diubah menjadi areal pertanian, kontur tanah tetap dipertahankan sesuai dengan aslinya. Selain menghindari longsor, sistem ini menghindarkan hilangnya humus tanah akibat pemotongan kontur tanah.

 

·        Kearifan Lokal Dalam Cerita Budaya Petuah dan Sastra

Kearifan lokal juga tertuang dalam seni sastra. Contohnya suku Melayu terkenal dengan seni sastranya. Lewat seni sastra suku Melayu menggambar kearifan lokal yang wajib dijunjung tinggi. Seperti dalam petikan seni sastra berikut.

 

Adat orang hidup beriman

Tahu menjaga laut dan hutan

Tahu menjaga kayu dan kayan

Tahu menjaga binatang hutan

Tebasnya tidak menghabiskan

Tebangnya tidak memusnahkan

Bakarnya tidak membinasakan

 

Dari berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat Indonesia di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kearifan lokal di Indonesia mengandung nilai-nilai yang patut kita teladani. Sikap dapat kita contoh antara lain kecintaan dan kebanggaan terhadap tanah air, menjaga kelestarian lingkungan, mengutamakan kebersamaan, saling menghormati, saling mencintai, dan tolong-menolong antar sesama warga negara.

Terkadang, nilai-nilai kearifan lokal tidak terekspos karena status marginal dari komunitas penganutnya, akan tetapi nilai-nilai kearifan lokal yang mereka anut membawa mereka dalam harkat dan martabat yang tinggi sebagai manusia. Hal ini dikarenakan sikap penghargaan mereka terhadap lingkungan sekitar yang memberikan kontribusi bagi keberlanjutan hidup.

Senin, 11 Januari 2021

Pengertian & Jenis-jenis Sumber Sejarah

Pengertian & Jenis-jenis Sumber Sejarah

 


Pengertian dan jenis-jenis sumber sejarah

A.    Pengertian sumber sejarah

Sumber sejarah adalah rekam jejak tentang aktivitas manusia di masa lalu yang berisi fakta dan dapat menjadi informasi yang mendukung fakta untuk memperoleh kebenaran sejarah.

 

B.    Jenis-jenis sumber sejarah

a)    Sumber sejarah berdasarkan sifatnya

·  Sumber primer adalah sumber yang ditulis atau dikisahkan oleh orang yang menyaksikan mendengar atau mengalami langsung peristiwa tersebut

·    Sumber sekunder adalah sumber yang didapat dari orang yang mendengar peristiwa tersebut dari orang lain. Contohnya buku dan majalah.

 

b)    Sumber sejarah berdasarkan bentuknya

·   Sumber tulisan adalah sumber berbentuk tulisan yang didalamnya terdapat informasi sejarah, diantaranya prasasti, naskah, buku, arsip dan koran

·     Sumber lisan adalah keterangan-keterangan yang diperoleh dari pelaku dan saksi sejarah. sumber lisan dibagi dua yaitu :

-  Sejarah lisan adalah keterangan langsung dari para pelaku atau saksi dari peristiwa sejarah dan sangat erat kaitannya dengan wawancara dan alat perekam suara.

- Tradisi lisan, tradisi bercerita mengenai masa lalu yang berkembang di masyarakat. Misalnya, tradisi dan legenda

-   Sumber benda adalah sumber berbentuk artefak atau hasil-hasil budaya yang ditemukan di suatu tempat. contohnya alat-alat penunjang kegiatan manusia, foto dan bangunan-bangunan bersejarah.

-      

1)     Sumber tulisan (tekstual)

Sumber tulisan adalah sumber berbentuk tulisan yang didalamnya terdapat informasi sejarah, antara lain prasasti, naskah, buku, arsip dan koran.

Surat kabar yang terbit di masa yang sama dengan peristiwa sejarah yang akan ditulis dapat dikategorikan sebagai sumber tulisan karena dalam sebuah surat kabar biasanya memuat tentang kejadian-kejadian penting di hari-hari tertentu. 




Surat-surat pribadi dapat pula menjadi sumber sejarah. Contohnya, surat-surat Kartini yang ditujukan kepada sahabatnya di negeri Belanda yang dapat memberikan kepada kita gambaran tentang kondisi perempuan dan kondisi sosial masyarakat Jawa pada saat itu. Selain itu, surat-surat tersebut juga banyak berisi mengenai opini dari seorang perempuan ningrat Jawa yang berpikiran lebih maju dari perempuan-perempuan lain sezamannya.

·         Prasasti

Prasasti merupakan maklumat yang di pahatkan pada lempeng batu, logam, daun tal atau Lontar, dan kayu yang dirumuskan menurut kaidah-kaidah tertentu. Prasasti pertama yang ditemukan di Indonesia berupa 7 buah Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Prasasti-prasasti yang ditemukan di Indonesia ditulis dalam berbagai bahasa seperti bahasa Sansekerta, Melayu kuno, Jawa kuno, Arab dan Tamil. Beragamnya bahasa yang digunakan menunjukkan bahwa Nusantara telah lama melakukan hubungan dengan banyak negara lain, umumnya melalui kegiatan perdagangan. Tidak semua penulisan prasasti dibuat di atas batu, ada juga yang ditulis di media lain, misalnya perunggu, tembaga, emas dan kain. Penulisan prasasti banyak dilakukan ketika masyarakat mulai mengenal tulisan. Salah satu tujuan dibuatnya Prasasti adalah untuk menetapkan Sima, yaitu Prasasti yang ditulis sebagai catatan tentang perpindahan hak, aturan pengumpulan pajak, atau pemberian jasa bagi tokoh atau lembaga agama di daerah bersangkutan. Isi prasasti Biasanya mengenai penulisan tanggal, tahun, nama pejabat yang terlibat, tempat dan alasan mengenai penetapan Sima. Hampir semua prasasti yang ditemukan di wilayah nusantara ditulis dengan menggunakan bahasa Sansekerta yang umumnya ditulis dalam bentuk puisi.

 


·         Biografi atau Autobiografi

Biografi maupun autobiografi umumnya berisi tentang kisah seseorang. Sebuah biografi tidak hanya berisi catatan tanggal lahir dan wafat seseorang, pekerjaan dan perjalanan karir, tetapi juga bercerita tentang perasaan dari pemilik biografi dan pengalamannya dalam suatu peristiwa atau kejadian tertentu dalam hidupnya. Biografi atau autobiografi dapat digunakan sebagai sumber sejarah karena dapat menggambarkan tentang keadaan masyarakat saat itu dengan bermacam dimensi sosialnya. Penulisan biografi Indonesia sangat berbeda dengan penulisan biografi di negara-negara barat. Buku-buku biografi yang terbit di Indonesia umumnya berorientasi pada tindakan (action-oriented). Contohnya, konsisten mengikuti urutan kronologis seperti diawali dengan cerita masa kecil sang tokoh, kemudian tindakan-tindakan yang dilakukan sebagai individu dengan berpikir dan bertindak dalam mencapai sebuah tujuan normatif yang digariskan oleh cita-cita bangsanya. Di Indonesia contoh biografi yang paling populer adalah biografi tentang pahlawan nasional, kemudian biografi tentang tokoh agama dari abad XX, dan yang terakhir adalah biografi para politisi sipil yang berada di luar jalur militer. Biografi pahlawan nasional mengemukakan peranan ideologi sebagai dasar perjuangan mereka dalam mencapai tujuan mulia. Contohnya, Mohammad Hatta menjadi lambang dari tokoh demokrasi konstitusional, Sudirman menjadi lambang keberanian militer di masa awal kemerdekaan, dan Kartini melambangkan perjuangan kesetaraan perempuan.



2)     Sumber Lisan

Sumber tulisan dianggap jauh lebih dapat dipercaya dari pada sumber lisan. Namun, sumber tulisan masih memerlukan analisis kritis. terlebih jika dokumen tulisan tersebut terkait dengan perjalanan sejarah tertentu yang bernuansa politik. Akan tetapi, pada masa sekarang sumber lisan telah banyak diterima oleh peneliti sejarah karena dapat mengisi celah atau kekosongan informasi pada sumber tulisan. Kelebihan penggunaan sumber lisan sebagai sumber sejarah adalah keterangan yang diperoleh bersifat demokratis dan berlangsung dua arah. Ketika ada hal yang kurang jelas, kita dapat langsung menanyakan pada narasumbernya. Kelemahan sumber lisan terkait kemampuan seseorang untuk mengingat suatu peristiwa. Semakin jauh dari peristiwanya, ingatan seseorang pun akan semakin pudar. Selain itu, unsur subjektivitas dalam sejarah lisan cukup tinggi. Kemauan untuk mengungkap peristiwa yang sebenarnya sangat bergantung pada narasumber tersebut. Itulah sebabnya hasil wawancara sejarah lisan harus tetap kita bandingkan dengan sumber lainnya.

 

3)     Visual

Ketika sumber tulisan dirasakan masih kurang mencukupi dijadikan sebagai fakta untuk mengungkap peristiwa masa lalu, maka dalam perspektif baru penulisan sejarah, para sejarawan mulai mencari sumber-sumber sejarah baru, seperti gambar-gambar visual dalam bentuk foto.

Sumber visual sebagian besar diperoleh melalui foto-foto masa lalu. Arsip visual sangat berguna untuk mendukung sumber tulisan karena arsip visual memberikan fakta dalam gambar atas kejadian atau peristiwa yang sesungguhnya.




4)     Audiovisual

Penggunaan arsip audio visual sumber sejarah memang belum banyak dimanfaatkan. Pada masa lampau audio yang sering kita dengar adalah ketika Soekarno membacakan naskah Proklamasi, tetapi rekaman tersebut ternyata tidak disertai dengan Visual gambar yang bergerak. Arsip audiovisual yang tersimpan di Gedung Arsip Nasional Sebenarnya cukup banyak merekam jejak masa lalu yang beragama, hanya saja Sebagai sebagian besar merupakan rekaman jejak dari pemerintahan kolonial dan juga pada masa pendudukan Jepang.

 

5)     Tradisi Lisan

Pada 1961, Jan Vansina, sejarawan dan antropolog Belgia, dalam karyanya yang berjudul De La Tradition Orale: Essai de Methode Historique, memosisikan tradisi lisan sebagai sumber sejarah yang menghadirkan fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan (Kredibel). Pemikiran ini dilandasi bahwa apa yang telah disampaikan atau diwariskan secara turun-menurun dan menjadi memori kolektif pada masyarakat pendukungnya akan membentuk tradisi lisan. Hal ini karena tradisi lisan merupakan rangkuman perjalanan sejarah masyarakat dari waktu ke waktu tanpa terkait oleh ada atau tidaknya dokumen tertulis.

Menurut Jan Vansina, tradisi lisan memiliki fungsi dan dapat menunjukkan ciri dari komunitas masyarakatnya. Artinya, setiap tradisi lisan mempunyai perbedaan antar masyarakat.

Folklor adalah bagian dari kebudayaan suatu masyarakat yang tersebar dan bersifat tradisional yang diwariskan secara lisan dan turun-temurun. Setiap masyarakat atau kebudayaan di nusantara memiliki folklornya sendiri dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan, kita kenal sangat kaya dengan folklore. Ciri-ciri folklor adalah sebagai berikut.

·      Penyebaran dan peristiwanya dilakukan secara lisan

·      Bersifat tradisional, artinya terikat dalam bentuk dan aturan yang baku

·      Bersifat anonim, artinya nama penciptanya tidak diketahui

·    Memiliki gaya bahasa yang suka melebih-lebihkan (hiperbola), serta sering menggunakan kata-kata klise, misalnya jika ingin menggambarkan kecantikan seseorang akan dikatakan “Wajahnya bersinar seperti bulan purnama”

·  Menggunakan kalimat pembuka dengan kata-kata, “menurut empunya cerita”  atau “menurut sahibulhikayat”, dan menutupnya dengan “… demikianlah mereka hidup berbahagia selamanya …”

·   Memiliki fungsi penting dalam kehidupan bersama dalam suatu masyarakat:  selain sebagai hiburan pendidikan nilai, juga untuk menyampaikan protes sosial dan bahkan untuk mengungkapkan keinginan yang terpendam

·      Merupakan milik bersama masyarakat pendukungnya

 

Sejauh mana kemudian tradisi lisan dapat menjadi sumber sejarah atau bahkan menjadi sejarah itu sendiri sangat bergantung pada kemampuan peneliti dalam melakukan konstruksi sejarah dengan dukungan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Ada beberapa hal yang dapat kita peroleh dari tradisi lisan, antara lain sebagai berikut.

·   Tradisi lisan dapat mencerminkan keadaan suatu masyarakat dalam konteks tradisi dan mengenali struktur masyarakat pendukungnya

·  Tradisi lisan dapat mengekspresikan keseluruhan atau sebagian kebudayaan yang menjadi milik masyarakat pendukungnya secara kolektif

·   Tradisi lisan hidup dalam ingatan setiap individu dalam komunitas tertentu sehingga merupakan kumpulan informasi yang diingat. Contohnya, setiap masyarakat umumnya memiliki gagasan sendiri tentang waktu. Karena Kalender belum mereka miliki, penentuan waktu selalu menggunakan kata sebelum dan sesudah atau yang berhubungan dengan peristiwa alam. Oleh karena itu, masih diperlukan interpretasi dan verifikasi peneliti agar pemanfaatan sumber menjadi lebih akurat.

 

Berikut ini uraian beberapa tradisi lisan yang dapat menjadi sumber sejarah.

a.  Mitos

    Mitos (dari kata bahasa Yunani mythos; Inggris mythology) adalah cerita prosa rakyat    yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah Dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau oleh penganutnya. Mitos umumnya bercerita tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi petualangan para dewa dan kisah percintaan mereka, dan sebagainya. Hampir setiap suku bangsa di Indonesia memiliki mitos, umumnya mitos yang terkait dengan asal usul masyarakat tersebut.

 

b.  Legenda

Mirip dengan mitos, legenda adalah prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. bedanya dengan mitos, tokoh dalam legenda lebih bersifat duniawi. Terdapat beberapa ciri legenda, diantaranya sebagai berikut.

·    Bersifat duniawi, artinya bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang dan terjadi pada masa yang belum terlampau lama

·  Ditokohi oleh manusia, yang ada kalanya mempunyai sifat dan kekuatan yang luar biasa, serta sering kali dibantu oleh makhluk-makhluk gaib

·        Milik bersama suatu komunitas tempat legenda tersebut lahir

·   Sering mengalami penyimpangan dari versi sebelumnya (terutama karena tidak ditulis)

·       Diwariskan secara turun-menurun

·     Banyak mengandung ajaran tentang kebaikan melawan kejahatan sehingga dapat dijadikan pedoman hidup

 

Jan Harold Brunvand menggolongkan legenda menjadi empat kategori, yakni sebagai berikut.

·        Legenda keagamaan yaitu legenda yang berkisah tentang para pemuka agama.

·   legenda alam gaib, legenda ini berbentuk kisah yang benar-benar terjadi atau pernah dialamimanusia sehubungan dengan makhluk gaib, hantu, siluman, gunduruwo, gejala-gejala alam gaib, sundel bolong dan sebagainya. Fungsinya adalah meneguhkan kebenaran dan kepercayaan terhadap alam gaib yang sering disebut takhayul

·       Legenda perseorangan adalah kisah tentang orang-orang tertentu yang dianggap benar-benar terjadi

·     legenda tempat atau lokasi legenda tempat adalah kisah yang berhubungan dengan suatu tempat atau bentuk topografi suatu daerah legenda ini hampir di semua tempat di Indonesia



c . Dongeng

Dongeng adalah cerita fiktif atau imajinatif yang diceritakan turun-temurun. Dalam dongeng, mungkin kita akan menemukan manusia bisa terbang atau hewan dapat berbicara.

Umumnya, dongeng tidak diketahui pengarangnya (anonim). Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, tetapi banyak juga dongeng yang mengajarkan baik buruk (ajaran moral) dan bahkan sindiran. Dengan demikian, selain menghibur dongeng merupakan sarana sosialisasi nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

 

d.  Nyanyian Rakyat

Nyanyian Rakyat adalah jenis folklor yang terdiri dari teks dan lagu. Dalam nyanyian rakyat, kata-kata dan lagu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun, teks yang sama tidak selalu dinyanyikan dengan lagu yang sama. Sebaliknya, lagu yang sama sering dipakai untuk menyanyikan Beberapa teks nyanyian yang berbeda. Sifat lentur seperti inilah yang membuat nyanyian rakyat berbeda dengan lagu pop atau klasik. Oleh karena itu, umur nyanyian rakyat lebih lama dari pada lagu pop atau klasik.

Setidaknya, ada empat fungsi nyanyian rakyat, yaitu pertama, sebagai pelipur lara, nyanyian jenaka, pengiring permainan anak-anak, dan pengantar tidur; kedua, sebagai pembangkit semangat; ketiga, memelihara sejarah setempat atau sejarah klan. Di Nias, ada nyanyian rakyat yang disebut hoho, yang digunakan untuk memelihara silsilah klan besar orang Nias yang disebut Mado. fungsi keempat adalah sebagai protes social, misalnya terhadap praktik-praktik ketidakadilan dalam masyarakat

 

e.  Upacara

Upacara merupakan rangkaian tindakan atau perbuatan yang terkait pada  aturan-aturan tertentu, seperti adat istiadat, agama dan kepercayaan. Contohnya, upacara penguburan, pendirian rumah, pembuatan perahu, awal perburuan, perkabungan, pengukuhan kepala suku dan upacara sebelum berperang.

 

6)     Sumber Kebendaan

·      Artefak

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, artefak adalah benda-benda seperti alat, perhiasan yang menunjukkan kecakapan kerja manusia (terutama pada zaman dahulu) yang ditemukan melalui penggalian arkeologi. Selain itu, artefak adalah benda (barang-barang) hasil kecerdasan manusia, seperti perkakas dan senjata. Benda-benda tersebut dibuat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh pada masa itu, seperti batu, baik masih kasar maupun yang telah diasah halus, tulang, logam, dan tanah liat (gerabah dan terakota).

Secara arkeologis, artefak diartikan sebagai semua benda dari bahan alam yang dibuat oleh manusia dengan menerapkan teknologi tertentu yang sesuai dengan zamannya. Ciri penting dalam konsep tentang artefak bahwa benda-benda ini dapat dipindahkan dengan relatif mudah, tanpa harus merusak atau menghancurkannya terlebih dahulu.

 

·      Fosil

Fosil berasal dari bahasa latin fossilis yang artinya “diperoleh dengan menggali”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fosil adalah sisa tulang-belulang binatang atau sisa tumbuhan zaman purba yang telah membatu dan tertanam di lapisan di bawah lapisan tanah.

Jadi, fosil adalah benda-benda masa lalu yang didapat melalui proses penggalian atau ekskavasi. Fosil yang paling umum adalah kerangka makhluk hidup yang tersisa, seperti gigi tulang dan cangkang. Ilmu yang mempelajari fosil adalah paleontologi (cabang ilmu arkeologi). Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen. Para ahli membedakan fosil menjadi beberapa macam, yaitu fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar, fosil ter, seperti yang terbentuk di sumur ter La Brea di California, AS. Hewan atau tumbuhan yang diperkirakan sudah punah, tetapi ternyata masih ada disebut fosil hidup.

Terdapat istilah fosilisasi, yaitu proses penimbunan sisa sisa hewan atau tumbuhan yang terakumulasi dalam sedimen atau endapan endapan baik yang mengalami pengawetan secara menyeluruh, sebagian, maupun jejaknya saja. Beberapa syarat terjadinya pemfosilan, antara lain:

-      organisme mempunyai bagian tubuh yang keras

-      mengalami pengawetan

-      terbebas dari bakteri pembusukan

-      terjadi secara alamiah

-      mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit, dan

-      umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu

 

Fosil bermanfaat untuk mengetahui sejarah kehidupan bumi pada masa lampau atau menandai periode waktu. Melalui fosil dan artefak, kita menentukan umur bumi, perkembangan flora dan fauna, dan perkembangan kehidupan manusia. Sebagai contoh, batuan yang mengandung fosil graptolit harus diberi tanggal dari Era Paleozoikum. Persebaran geografi fosil memungkinkan para ahli geologi untuk mencocokkan susunan batu dari bagian-bagian lain di dunia.




Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Damancum Mulsi
Dwi Iryani
Muhammad Sholihin

Contact

Hubungi Kami

Silakan hubungi kami jika ada hal yang ingin ditanyakan, semoga kami dapat membantu anda.

Address:

Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur

Work Time:

Setiap Saat

Phone:

-

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman