Selamat Datang Di Mulsi Media

Mulsi Media merupakan media pembelajaran dari segala bidang yang bernilai positif dan bermanfaat

Find Out More Purchase Theme

Our Services

Sejarah Peminatan

Kumpulan penjelasan materi Sejarah Peminatan.

Read More

Sosiologi

Kumpulan penjelasan materi Sosiologi.

Read More

Tutorial

Kumpulan tutorial aplikasi.

Read More

Antropokinetika

Kumpulan materi dan tutorial Sportourism serta medical sport.

Read More

Recent Work

Jumat, 19 Februari 2021

INTEGRASI SOSIAL

INTEGRASI SOSIAL

  

1.        Penegrtian Integrasi Social

Integrase berasal dari Bahasa integration yang berarti penggabungan. Beberapa pengertian integrase menurut para ahli sebagai berikut

·       Paul B. Horton

Integrase adalah proses pengembangan masyarakat yang mana segenap kelompok ras dan etnik mampu berperan bersama-sama dalam kehidupan budaya dan ekonomi

·       Hendropuspito

Integrase social adalah suatu kondisi kesatuan hidup bersama dari aneka satuan system social budaya, kelompok-kelompok, etnis dan kemasyarakatan, untuk berinteraksi dan bekerjasama berdasarkan nilai-nilai dan norma dasar bersama guna mewujudkan fungsi social budaya yang maju tanpa mengorbankan ciri kebhinekaan yang ada

·       Baton

Integrase sebagai pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan fungsi penting pada perbedaan pada ras tersebut

·       Myron Weyner

Integrase social adalah penyatuan kelompok budaya dan kelompok social ke dalam satu kesatuan wilayah dan dalam pembentukan suatu identitas yang dicita-citakan

 

2.        Syarat Integrasi Sosial

Syarat integrase menurut Willian F. Ogburn dan Mayer Nimkoff adalah sebagai berikut

a) Anggota masyarakat merasa bahwa ereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan mereka

b)   Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (consensus) bersama mengenai nilai dan norma

c)    Nilai dan norma itu berlaku cukup lama dan dijalankan secara konsisten

 

3.        Factor yang Memengaruhi Cepat Lambatnya Integrasi Sosial

· Homogenitas kelompok, semakin tinggi homogenitas masyarakat, integrase social akan berlangsung lebih cepat

·   Besar kecilnya kelompok, semakin besar kelompok dan semakin majemuk kelompok tersebut, integrase social akan lebih lambat tercapai

·  Mobilitas geografis, semakin tingginya tingkat mobilitas geografis masyarakat akan semakin sulit berintegrasi karena masyarakat mudah dating dan pergi disuatu wilayah

·  Efektifitas komunikasi, komunikasi yang semakin efektif dalam masyarakat akan semakin mempercepat proses integrase social

 

4.        Bentuk-bentuk Integrasi social

Bentuk integrase social antara lain sebagai berikut

a)  Integrasi normatif, integrasi yang terjadi karena adanya norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Contoh : masyarakat yang disatukan dengan norma gotong royong yang berlaku dalam masyarakat

b)   Integrase fungsional, integrase yang terbentuk karena adanya fungsi-fungsi tertentu tertentu dalam masyarakat. Contoh: persatuan guru karena mereka memiliki fungsi sebagai pendidik bangsa

c)   Integrase koersif, merupakan integrase yang terbentuk karena kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa sehingga dapat mempersatukan masyarakat. Contoh : mahasiswa yang idealis bersatu dibawah pimpinan ketua BEM yang tegas

 

5.        Proses Terjadinya Integrasi Sosial

Sebuah integrase social dapat terjadi setelah melalui beberapa proses berikut

 


Keterangan :

· Akomodasi : dalam akomodasi muncul keinginan dari berbagai pihak yang berbeda untuk saling bekerjasama

·   Kerjasama : terwujudnya kerja sama dari berbagai pihak yang berbeda

·   Koordinasi : adanya kesatuan tindakan dari berbagai pihak yang berbeda

· Asimilasi : sebuah proses social dimana masing-masing pihak yang berbeda berusaha mengurangi dan menghilangkan perbedaan yang ada

 

6.       Faktor Pendorong Integrasi Sosial

Factor pendorong terwujudnya integrase social adalah sebagai berikut

·      Adanya rasa toleransi terhadap kelompok lain yang berbeda

·      Adanya rasa menghormati dan menghargai kebudayaan lain

·      Semakin majunya teknologi komunikasi antar daerah

·      Terjadinya perkawinan campuran antar suku bangsa yang berbeda

·      Adanya musuh bersama dari luar

·      Pemerintahan yang baik dan terbuka mampu mengakomodasi perbedaan kelompok

 

Sumber: Tim Progresif. 2019. Erlangga X-Press UN SMA/MA Sosiologi. Jakarta : Erlangga

Senin, 15 Februari 2021

Perkembangan Historiografi

Perkembangan Historiografi

 

Sejarah Peminatan

Historiografi berarti karya sejarah dari masa lampau sampai masa sekarang (dikenal dengan nama sejarah kontemporer). Di dalamnya tercakup pula pendekatan yang dipakai para sejarawan yang menulisnya. Dalam perkembangannya historiografi di Indonesia dapat dibedakan ke dalam dua kategori, yakni historiografi kolonial dan historiografi modern. Penulisan sejarah Indonesia sejak zaman kerajaan sampai pasca kolonial umumnya ditandai dua hal:

·           Bersifat politis dan ideologis, kurang ilmiah, serta

·           Menunjukkan unsur kejayaan dan kebesaran dari struktur kekuasaan yang dominan.

Bagaimana persisnya dinamika perkembangan penulisan sejarah Indonesia dari zaman kerajaan sampai sekarang, mari kita ikuti secara seksama pembahasan tentang tahap-tahap perkembangan historiografi Indonesia berikut.

1.     Historiografi Tradisional

Penulisan. sejarah yang bercorak historiografi tradisional di Indonesia sudah dimulai sejak zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Budha sampai pada masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Menurut Taufik Abdullah, pada fase historiografi tradisional, penulisan sejarah yang dilakukan lebih merupakan ekspresi budaya dan pantulan keprihatinan sosial masyarakat atau kelompok sosial yang menghasilkannya daripada usaha untuk merekam peristiwa masa lalu. Ciri-ciri historiografi tradisional, yaitu sebagai berikut:

·    Istana-sentris karena berpusat pada keinginan dan kepentingan Raja

·  Feodal aristokratis karena berfokus pada kehidupan kaum bangsawan feudal, bukan kehidupan rakyat jelata

·  Subjektivitas tinggi karena penulis hanya mencatat peristiwa penting di kerajaan dan atas permintaan sang raja

·    Tujuannya melegitimasi dan melanggengkan kekuasaan serta kedudukan Raja.

·    Banyak mengandung anakronisme dalam penyusunannya

· Umumnya, penulisannya tidak disusun secara ilmiah, serta banyak data yang bercampur baur antara unsur mitos dan realitas. Berbagai mitos dan legenda diarahkan untuk mengukuhkan kepercayaan bahwa Raja tidak sama dengan orang biasa.

·  Sumber-sumber datanya sulit untuk ditelusuri, bahkan terkadang mustahil dibuktikan. Dengan kata lain, fakta sejarahnya sulit dibuktikan.

·  Regio-sentris, artinya banyak dipengaruhi oleh faktor kebudayaan masyarakat tempat naskah tersebut ditulis.

 

Jenis karya yang dapat dikategorikan dalam historiografi tradisional adalah prasasti (pada masa hindu-budha), babad dan hikayat. Prasasti dimasukkan bagian dari tulisan sejarah tradisional karena prasastilah yang menjadi sumber utama untuk mengetahui tentang kerajaan hindu-budha masa awal. Adapun hikayat dan babad pada dasarnya sama, hanya berbeda dalam penyebutannya. Hikayat lebih dikenal di Melayu, sedangkan babad dikenal di Mataram (Jawa).

Hikayat merupakan kesusastraan Melayu yang keseluruhan ceritanya didominasi oleh karya-karya yang bernapaskan ajaran-ajaran Islam. Hikayat memiliki dua bentuk penulisan, yaitu syair dan pantun. Sementara itu, babad merupakan kronik-kronik yang panjang dan terperinci yang ditulis dalam sajak yang sangat panjang dan terperinci yang ditemukan dalam bahasa Jawa baru dan tidak ditemukan dalam bahasa Jawa kuno. Babad banyak menceritakan tentang sejarah kerajaan-kerajaan, pahlawan-pahlawan, atau kejadian-kejadian tertentu. Walaupun merupakan karya sastra babad memiliki kedudukan yang penting dalam penulisan sejarah karena memuat tentang peristiwa-peristiwa.

Contoh Babad

Selain itu, ada serat, yaitu jenis kesusastraan Jawa yang merupakan saluran- saluran dari bahasa Jawa kuno yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Jawa modern. Contohnya, serat Rama serta Bratayudha dan serat Arjuna sastrabahu.

 

2.     Historiografi Kolonial

Historiografi kolonial adalah karya-karya sejarah (tulisan sejarah) yang dengan ciri khas Eropa-sentris. Karya-karya sejarah ini umumnya ditulis pada saat pemerintahan colonial, yaitu sejak zaman VOC sampai ketika pemerintahan Hindia Belanda berakhir dan takluk kepada Jepang (1942). Fokus utama historiografi kolonial adalah kehidupan warga Belanda di Indonesia di Hindia Belanda. Contohnya, aktivitas-aktivitas warga Belanda, pemerintahan colonial, pegawai kompeni, dan kegiatan para gubernur jenderal dalam menjalankan tugasnya di Hindia Belanda. Kondisi rakyat Indonesia yang terjajah tidak mendapat perhatian. Karya yang bercorak historiografi kolonial diantaranya Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-Indie karya J. K. J.  de Jonge dan Geschiedenis der Nederlanders op Java 1600-1800 karya M. L. van Deventer.

 

3.     Historiografi Modern

Historiografi Modern

Sebagaimana dikemukakan oleh sejarawan Sartono kartodirdjo, visi dasar historiografi nasional adalah menempatkan rakyat Indonesia sebagai pemeran serta pelaku utama dari sejarahnya sendiri (history from Within). Artinya, sejarah Indonesia ditulis berdasarkan pengalaman serta sudut pandang orang Indonesia sendiri, bukan berdasarkan pengalaman serta sudut pandang bangsa penjajah. Pengalaman serta sudut pandang bangsa penjajah pada dasarnya bukanlah sejarah Indonesia, melainkan sejarah bangsa penjajah (Belanda) di Indonesia.

Historiografi Indonesia kemudian diramaikan oleh penulis sejarah Indonesia yang tidak mengabadikan unsur kritis rasa nasionalisme. Karena sifatnya yang menggunakan kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, historiografi jenis ini disebut historiografi modern. Sebenarnya, karya historiografi yang bersifat Indonesia-sentris dan ditulis oleh bangsa Indonesia telah ada sebelum kemerdekaan. Karya tersebut berupa disertasi yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (tinjauan kritis tentang sejarah Banten) karya Dr. Husein Djajadiningrat (1886-1960). Djajadiningrat dianggap sebagai pelopor historiografi modern atau kritis karena dalam karya ini, ia menggali fakta sejarah secara objektif, lepas dari kepentingan nilai, dan ideology, ataupun seleranya sendiri.

Historiografi modern atau kritis menuntut ketetapan metodologi dalam usaha untuk mendapatkan fakta sejarah secermat mungkin, mengadakan rekonstruksi sebaik mungkin, serta menerangkannya setepat mungkin sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Selain itu, historiografi ini juga memunculkan suatu terobosan baru, yaitu munculnya peranan-peranan rakyat kecil (wong cilik) sebagai pelaku sejarah. Penulisan sejarah selama ini boleh dikatakan didominasi oleh para tokoh-tokoh besar, seperti para pahlawan kemerdekaan atau tokoh politik yang berpengaruh.

Historiografi Modern

Sumber : Hapsari, Ratna dan Adil, M.2017. Sejarah Peminatan Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga

 

Senin, 08 Februari 2021

Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

Langkah-Langkah Penelitian Sejarah


 

Peranan dalam penelitian sejarah

Penelitian merupakan suatu proses mencari tahu yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis. Tujuannya untuk menemukan, mengartikan dan memperbaiki fakta-fakta sehingga akan tercapai pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori/hukum.

Penelitian sejarah merupakan proses mengkaji yang dilakukan secara sistematis suatu peristiwa masa lalu dalam rangka mendapatkan pengetahuan serta pemahaman yang mendalam dan makna dari peristiwa tersebut.

 

Langkah-langkah dalam penelitian sejarah

Langkah tersebut, yang disebut dengan metode ilmiah, yaitu pedoman yang digunakan dalam meneliti suatu peristiwa sejarah. Langkah tersebut memperlihatkan sebuah kerja ilmiah.

Metode penelitian disebut juga metode sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis sumber sejarah dan peninggalan masa lampau dalam rangka menghasilkan gambaran yang benar tentang peristiwa itu. Secara operasional, metode sejarah itu adalah langkah-langkah penelitian yang harus dilalui peneliti dalam rangka menghasilkan pemahaman yang tepat tentang suatu peristiwa masa lalu.

Menurut Kuntowijoyo, langkah-langkah penelitian itu meliputi pemilihan topik, pengumpulan sumber atau data (heuristic), verifikasi (kritik sejarah), interpretasi, dan penulisan (historiografi). Metode itu hanyalah instrumen atau alat untuk memperoleh hasil penelitian yang bermutu serta dapat diakui dan dipercaya masyarakat.

Dengan menggunakan metode sejarah secara tepat, pertanyaan-pertanyaan dasar penelitian berikut ini dapat dijawab tuntas sehingga pada glirannya mendukung sebuah historiografi yang layak. Pertanyaan-pertanyaan dimaksud adalah sebagai berikut.

·    peristiwa seperti apa yang akan terjadi (What)?

·    Kapan terjadi peristiwa itu (When)?

·    Dimana terjadinya peristiwa itu (Where)?

·    Siapa-siapa saja yang terlibat dan apa hubungan antarpelaku (who)?

·    Mengapa itu terjadi (Why)? Apa latar belakangnya? Apa saja factor-faktor pemicunya?

·    Bagaimana proses yang akan terjadinya  (How)?

·    Apa dampaknya terhadap kehidupan manusia waktu itu?

Langkah-langkah penelitian sejarah, secara runtut yaitu memilih topik, mengumpulkan data, melakukan verifikasi terhadap data, menginterpretasikan data dan menulis hasil penelitian. Proses tersebut lazim disebut juga proses metodologis dalam penelitian, yaitu langkah-langkah atau proses yang digunakankan di dalam mencari dan menemukan jalan menuju kebenaran sejarah.

Kemampuan metodologi sangat menentukan apakah seorang peneliti dapat dipercaya atau tidak (faktor kredibilitas). Kredibilitas yang tinggi Artinya bahwa dalam pandangan komunitas sejarah dan masyarakat, peneliti tersebut mengikuti prosedur-prosedur ilmiah atau metode ilmiah yang ketat serta bersikap serius dalam meneliti subjeknya.


Kemampuan metodologis harus juga disertai dengan kemampuan lain, yaitu kemampuan teknis. Dalam proses metodologis dan proses teknis inilah sejarawan terlibat dalam apa yang sering kita sebut proses rekonstruksi masa lalu. Hasilnya diharapkan memberikan gambaran yang benar tentang suatu peristiwa masa lalu yang diteliti itu. Selanjutnya, mari kita ikuti langkah-langkah penelitian berikut.


a)     Pemilihan Topik

Sebelum melaksanakan kegiatan penelitian, peneliti harus terlebih dahulu menentukan topik yang akan diteliti. Pemilihan topik hendaknya memenuhi hal-hal sebagai berikut.

· Unik. Topik yang dipilih mengundang rasa ingin tahu dan ketertarikan pembaca untuk membacanya

·   Bernilai. Permasalahan yang diteliti memiliki arti penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pada akhirnya berguna bagi masyarakat

·    Kesatuan. Unsur-unsur yang dijadikan bahan penelitian mempunyai satu kesatuan ide

·   Orisinal. Topik yang dipilih merupakan sebuah upaya untuk melakukan sebuah pembuktian baru atas peristiwa yang sama.

· Praktis. Data yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuan atau sumber daya yang dimiliki peneliti

Selain itu, dalam proses pemilihan topik, seorang sejarawan harus memperlihatkan kedekatan Kedekatan intelektual terhadap topik yang dipilih. Kedekatan emosional berarti peneliti suka dan tertarik dengan topik yang dipilihnya. Hal ini penting sebab penelitian yang dilakukan dengan senang hati lebih besar kemungkinannya menghasilkan penelitian yang bermutu dibandingkan Penelitian yang dilakukan setengah hati. Sementara itu, kedekatan intelektual berarti peneliti menguasai topik yang dipilih.

 

b)     Heuristik

Bukti sejarah adalah peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan aktivitas manusia pada masa lampau yang dapat mendukung kebenaran dari peristiwa yang diteliti. Bukti sejarah merupakan data atau informasi penting untuk menyingkap kebenaran suatu peristiwa sejarah.

Istilah lazim untuk proses pengumpulan bukti-bukti atau data ini adalah heuristic, dari kata bahasa Yunani heuriskein yang berarti mencari atau menemukan. Data adalah kumpulan fakta atau informasi yang menjadi dasar bagi analisis dan interpretasi peneliti. Informasi-informasi tersebut disebut sumber sejarah.

Dalam semua kegiatan penelitian, sumber merupakan acuan pokok dari materi yang akan dikaji. Kerja peneliti sama seperti kerja seorang detektif, mengumpulkan dan melacak berbagai bukti dan informasi tentang topik penelitiannya. Berbagai kemungkinan yang bisa terjadi kemudian direkonstruksi dan diuji.

Berdasarkan cara mendapatkannya, sumber ada dua macam, yaitu sumber primer dan sumber sekunder:

·   Sumber primer, yaitu berupa wawancara langsung sumber pertama (pelaku atau saksi sejarah), dokumen asli, laporan atau catatan, foto, relikui/benda peninggalan, dan artefak. Berikut ini contoh data primer.



· Sumber sekunder, yaitu informasi yang diperoleh dari buku teks, Koran, majalah, ensiklopedia, tinjauan penelitian dan referensi-referensi lain.

 

Berdasarkan bentuknya, ada tiga macam sumber yaitu sumber, yaitu sumber tulisan, sumber lisan,  dan sumber benda.

· Sumber tulisan, yaitu sumber berbentuk tulisan yang mengandung informasi tentang suatu peristiwa. Contohnya, prasasti, naskah, buku, dokumen tertulis, arsip dan koran

· Sumber lisan, yaitu keterangan-keterangan yang diperoleh dari Pelaku dan saksi sejarah. Contohnya, rekaman pidato dan video

·   Sumber benda, yaitu sumber berbentuk artefak atau hasil-hasil budaya yang ditemukan di suatu tempat. Contohnya, peralatan-peralatan penunjang kegiatan manusia, senjata, fosil, foto, dan bangunan-bangunan bersejarah.


Beberapa masalah yang muncul terkait sumber sejarah yang sudah didapatkan, di antaranya sebagai berikut.

·   Sumber sudah sangat tua

· Sumber tidak boleh sembarangan dibaca (pada daerah tertentu yang boleh membaca hanya orang-orang tertentu)

·    Kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan

·    Lebih banyak menggunakan tulisan tangan (sumber tua)

·   Sumber masih tertutup (batas dibukanya sumber sekitar 25 tahun setelah peristiwa itu terjadi).

 

c)     Kritik

Setelah data terkumpul dan terorganisasi dengan baik, proses berikutnya adalah menguji keaslian dan keabsahan data. Proses ini lazim disebut kritik atau verifikasi sejarah.

Setiap sumber informasi harus diuji keaslian dan keabsahannya karena setiap sumber dapat saja dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti prasangka, kondisi ekonomi dan iklim politik saat penelitian berlangsung. Pengujian dilakukan dengan membanding-bandingkan semua demi mendapatkan data yang paling mendekati kebenaran. Data sejarah atau bukti-bukti sejarah yang telah diverifikasi kemudian menjadi fakta sejarah

Fakta-fakta sejarah inilah yang kemudian menjadi landasan penulisan sejarah. Peneliti menyusun, memilah-milah dan membuat hubungan di antara fakta-fakta, membuat hipotesis atau menarik benang-benang merah tertentu, lalu menulis sudut pandang atau konstruksinya sendiri tentang peristiwa yang diteliti (lihat pembahasan tentang tahap interpretasi).

Ditinjau dari sifatnya, fakta sejarah dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu fakta keras dan fakta lunak

·   Fakta keras (hard fact), yaitu fakta yang telah diterima kebenarannya atau fakta yang sudah pasti dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Contohnya, pada 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.



·   Fakta lunak (soft fact), yaitu fakta yang masih memerlukan bukti lebih kuat lagi untuk diyakini kebenarannya. Contohnya, lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya sampai saat ini masih belum dapat dipastikan dengan benar dan di diskusikan tentang hal tersebut terus berlangsung.


Ditinjau dari wujudnya, fakta dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fakta mental dan fakta social

·  Fakta mental, yaitu fakta yang bersifat abstrak, misalnya perasaan, pandangan, keyakinan, dan kepercayaan. Contohnya, gambaran atau pandangan para bangsawan terhadap nilai-nilai tradisi, seperti kebiasaan memberikan sesaji, mencuci pusaka keraton pada saat-saat tertentu, dan melakukan ritual pemujaan terhadap penguasa Laut Selatan.

·   Fakta social, yaitu konteks hubungan antar manusia dan situasi masyarakat pada saat peristiwa terjadi. Contohnya, Bagaimana kondisi sosial  masyarakat Majapahit ketika Prabu Hayam Wuruk menjadi raja? Lembaga-lembaga apa saja yang berfungsi sebagai pengatur masyarakat? Bagaimana raja mengatur kehidupan beragama masyarakat?

 

Selanjutnya, kritik atau verifikasi ada dua macam yakni sebagai berikut.

·       Kritik Eksternal

Kritik eksternal adalah kritik atau verifikasi terhadap keabsahan (keakuratan) dan keaslian atau autentisitas informasi atau dokumen, seperti bahannya (dokumen dengan tulisannya).

Kritik eksternal dalam hal keabsahan (keakuratan) data antara lain menyangkut pernyataan-pernyataan berikut.

1) Apakah data awal telah diubah, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, dengan menyalinnya?

2)    Apakah dokumen itu asli atau Salinan?

3) Jika tanggal dan penulis data tidak diketahui, apakah ada petunjuk internal yang menunjukkan asal mulanya?

 

·       Kritik Internal

Kritik internal adalah kritik atau verifikasi terhadap kredibilitas atau keterpercayaan data. Jadi, menyangkut isi informasi, apakah data dapat dipercaya atau tidak. Dalam hal ini, seorang peneliti harus bersikap objektif dan netral dalam menggunakan data yang telah diperoleh sehingga peristiwa sejarah itu terjamin kebenarannya. Kritik internal umumnya terkait erat dengan keabsahan (validitas) dan makna data. Dalam hal keabsahan data, kritik internal menggunakan pernyataan-pernyataan sebagai berikut.

1)    Apa yang dimaksudkan penulis dengan setiap kata atau pernyataan dalam data?

2)    Seberapa jauh penulis dapat dipercaya?

3)    Apa sebetulnya yang ingin dikatakan penulis?

4)   Bagaimana menafsirkan (menginterpretasikan) kata-kata yang digunakan penulis?

 

·       Interpretasi

Setelah diverifikasi, data lalu diinterpretasi. Peneliti merangkai fakta-fakta yang telah didapatkan serta melihat keterkaitan diantara fakta-fakta itu, disebut juga interpretasi sintesis, melihat hubungan sebab akibat,  disebut interpretasi analisis, serta menarik benang merah atau membuat konstruksinya sendiri atas peristiwa itu. Benang merah ini kemudian diuji di analisis sekali lagi sampai akhirnya peneliti siap menyampaikan hasil penelitiannya secara tertulis. Jadi, pada tahap akhir interpretasi, peneliti sudah mempunyai struktur atau sudut pandang sendiri tentang topik yang diteliti.

 

·       Historiografi

Historiografi berasal dari bahasa Latin historiographia, historia, berarti “sejarah”, “narasi”, dan graphia berarti “penulisan”. Historiografi merupakan tahap akhir dari metode sejarah yakni, berupa kegiatan menulis. Dalam tahap historiografi. fakta-fakta yang yang telah dikumpulkan, dikritik dan diinterpretasikan kemudian disajikan dalam bentuk tulisan yang logis, sistematis dan bermakna.

Ringkasnya, historiografi mencakup penyajian latar belakang atau konteks peristiwa, kronologi peristiwa, analisis sebab-akibat dan uraian mendalam mengenai hasil penelitian, dampak serta kesimpulan penelitian.

Dalam kerangka itu, pernyataan-pernyataan berikut kiranya membantu.

1)    Apa yang sebenarnya telah terjadi pada masa yang lalu tersebut?

2)    Apa dan siapakah penyebab utama dari peristiwa sejarah itu?

3)  Sejauh manakah sebab dan akibat atas peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dapat ditentukan?

4)    Apakah pengetahuan yang diperoleh pada masa lalu tersebut dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman kita tentang peristiwa yang sedang berlangsung saat ini?

5)  Apakah peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa yang lalu tersebut memiliki pola-pola yang dapat digunakan untuk memprediksi peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa yang akan datang?

 

Berikut penjelasan tentang sumbangan ilmu-ilmu sosial tersebut:

·       Arkeologi

Seorang arkeolog memiliki peran penting terhadap ilmu sejarah karena kemampuannya mengidentifikasi sumber-sumber sejarah, terutama sumber benda berupa artefak dan bangunan bersejarah. Proses identifikasi yang dilakukan arkeolog biasanya terkait dengan lokasi penemuan, jenis dan fungsi artefak, usia dan perkiraan zaman penggunaan benda itu. Kerja seorang arkeolog juga mendapat bantuan dari ilmu-ilmu lain, seperti pedologi, yaitu ilmu untuk mengenali jenis-jenis lapisan tanah sehingga usia benda-benda yang ditemukan dalam proses ekskavasi (penggalian) dapat diperkirakan dengan lebih tepat.

·       Sosiologi dan Antropologi

Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang budaya masyarakat. Antropologi berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa terhadap ciri-ciri fisik, adat istiadat, dan budaya masyarakat yang berbeda dari mereka. Antropologi dan sosiologi mirip, tetapi terdapat juga perbedaan diantara keduanya. Sosiologi menitikberatkan masyarakat dan kehidupan sosialnya, sedangkan antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk social. Sosiologi sangat membantu sejarah, terutama dalam memahami interaksi atau hubungan antarmanusia serta membantu menjelaskan aktivitas bersama (kolektif) manusia pada masa lampau. Banyak teori sosiologi yang dapat membantu peneliti dalam proses interpretasi data.

·       Geografi

Ilmu geografi berkaitan dengan latar geografis tempat sejarah terjadi. Dimensi ruang ini membantu menjelaskan kejadian sejarah, terutama yang berhubungan dengan lokasi, kondisi, struktur dan bentuk tanah. Sebagai contoh, alasan masyarakat zaman dahulu membangun peradabannya di pinggir-pinggir sungai besar. Di Jawa, misalnya, fosil dan hasil budaya manusia purba banyak ditemukan di sepanjang wilayah aliran Bengawan Solo, peradaban Mesir ditemukan di wilayah Sepanjang Sungai Nil, dan sisa-sisa hasil kebudayaan Mesopotamia tersebar di sekitar aliran sungai Eufrat dan Tigris.



·       Ekonomi

Ilmu ekonomi membantu menjelaskan peristiwa dan cara manusia berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya di masa lampau. Sebagai contoh, mata pencaharian manusia pada masa lampau melewati tahapan-tahapan, seperti berburu dan meramu, bertani, berternak, lalu berdagang. Dalam kegiatan perdagangan, mereka memakai sistem barter, yaitu sistem perdagangan dalam bentuk saling menukar barang.

·       Psikologi

Ilmu psikologi berkaitan dengan masalah kejiwaan, pikiran, emosi dan perilaku manusia. Ilmu ini banyak memberikan wawasan kepada peneliti untuk menjelaskan perilaku tokoh atau keterlibatannya secara emosional dalam sebuah peristiwa sejarah. Teori-teori dalam psikologi sosial juga dapat menjelaskan faktor-faktor yang memicu revolusi, demonstrasi dan konflik.

Sumber : Hapsari, Ratna dan Adil, M.2017. Sejarah Peminatan Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga.


Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Damancum Mulsi
Dwi Iryani
Muhammad Sholihin

Contact

Hubungi Kami

Silakan hubungi kami jika ada hal yang ingin ditanyakan, semoga kami dapat membantu anda.

Address:

Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur

Work Time:

Setiap Saat

Phone:

-

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman